PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK KAYU SISA PENGGERGAJIAN TERHADAP KUAT DESAK BETON

Siswadi Siswadi, Alfeatra Rapa, Dhian Puspitasari


Abstract


In every construction project, a formwork made from wood is often used to form reinforced concrete columns, beams as well as slabs. In this case wood is often cut in the project results in some dirt and waste material which will affect the quality of concrete. Concrete fiber is concrete consists of coarse aggregate, sand, cement, water and fiber, which can be a natural or fabricated fiber. The brittle property and low tensile strength of concrete can be improved with the addition of fiber. The fiber material to be used is Bangkirai sawdust from Yogyakarta industry. The size of sawdust to be used is relatively small (2 to 5 mm). The addition of the saw dust varies, i.e., 0,0.5 and 1 kg/m3, respectively. The content of each material for the concrete mix designed is taken such that the designed compressive strength of the concrete can be achieved. The water content ratio is taken as 0.45. The addition of fiber as many as 0.5 and 1 kg/m3 decreases the workability, which can be seen from the decrease of slump and increase of VB time. The highest compressive strength is achieved with the addition of 1 kg/m3 of fiber, where the compressive strength that can be reached is 27.1 MPa. This value is 3.1% higher compared to the compressive strength of normal concrete: 26.293 MPa.

 

 

Abstract in Bahasa Indonesia:

Pada setiap proyek konstruksi sering dijumpai pemakaian bekesting kayu untuk membentuk beton bertulang, baik untuk membentuk kolom, balok maupun pelat. Dengan pemakaian bekesting dari kayu, maka seringkali tidak dapat dihindarkan pemotongan kayu di lokasi. Pemotongan kayu untuk bekesting biasanya mengakibatkan bagian bekesting atau bagian sambungan beton menjadi kotor oleh sisa gergajian. Serbuk gergajian hasil pemotongan kayu tersebut tentunya akan mempengaruhi kualitas beton hasil pengecoran. Beton fiber merupakan beton dengan bahan penyusun berupa kerikil, pasir, semen, air serta fiber yang dapat berupa fiber alamiah maupun buatan. Sifat getas dan nilai kuat tarik beton yang rendah dapat diperbaiki dengan menambahkan serat pada beton. Serbuk kayu yang digunakan sebagai bahan serat merupakan jenis kayu Bangkirai berasal dari sisa penggergajian di daerah Yogyakarta. Sisa penggergajian kayu yang digunakan berupa serat dengan ukuran yang relatif kecil (2 sampai dengan 5 mm).Variasi penambahan serbuk kayu pada campuran adukan beton sebesar 0 kg/m3, 0,5 kg/m3, dan 1 kg/m3. Adukan beton yang digunakan untuk pembuatan silinder beton, direncanakan sedemikian rupa kebutuhan bahan susunnya, sehingga dapat mencapai kuat desak yang direncanakan. Faktor air semen yang digunakan sebesar 0,45. Penambahan serat/fiber berupa serbuk kayu sebanyak 0,5 kg/m3 dan 1 kg/m3 ke dalam adukan beton, menurunkan tingkat workability. Hal ini tampak dari nilai slump yang menurun dan nilai VB-Time yang meningkat, meskipun memenuhi syarat bahwa beton masih dalam taraf mudah dikerjakan. Kuat desak tertinggi dicapai oleh beton dengan penambahan serbuk kayu sebesar 1 kg/m3, di mana dicapai nilai kuat desak sebesar 27,100 MPa atau terjadi peningkatan sebesar 3,10 % dibandingkan dengan beton normal, yang memiliki kuat desak 26,293 MPa.

 

 

Kata kunci: beton fiber, serbuk kayu, workability, kuat desak beton


Keywords


concrete fiber, wood fiber, workability, concrete compressive strength

Full Text: PDF


Copyright © Research Center Web-Dev Team