PERILAKU REMBESAN LEACHATE PADA DASAR CLAY LINER DI LPA SUPIT URANG KOTA MALANG

Agus Tugas Sudjianto

Abstract


Decomposed Urban Waste which is contained at sanitary landfill (LPA) consequently produces leachate. Thereby, impermeable layer need to be installed at container base to avoid the seep of leachate which can potentially pollute the groundwater. Commonly, clay liner base is used as impermeable layer under the container instead of concrete liner due to its cheaper and faster to build. In this research, leachate from LPA Supit Urang, Malang and clay from Mulyorejo area, Sukun distric, Malang city are used for the research object. Clay is compacted by Proctor standard compaction, where it is conducted in several condition of moisture content, 2 samples with dry moisture content (dry side), 2 samples with wet moisture content (wet side), and 2 samples with optimum moisture content (optimum side), so the total samples is 6 units. The hydraulic conductivity of all the samples is obtained then via falling head permeability test by infiltrate the leachate through the samples. The results, clay liner at the dry side has 3.31x10-6 cm/sec hydraulic conductivity, the wet side has 3.08x10-6 cm/sec hydraulic conductivity, and the optimum side has 3.20x10-6 cm/sec hydraulic conductivity. All moisture content parameters decreased after falling head permeability test. The apt moisture content of clay liner is at the wet side due to it has smaller hydraulic conductivity than the dry side and optimum side. Higher moisture content of clay liner will obtain smaller hydraulic conductivity; therefore it’s more appropriate as the clay liner planning for LPA container base.

 

 

Abstract in Bahasa Indonesia:

 

Sampah perkotaan yang ditampung pada lokasi pembuangan akhir (LPA) akan mengalami proses dekomposisi. Salah satu hasil dari dekomposisi sampah tersebut adalah leachate yaitu sampah yang berupa cairan. Untuk mencegah meresapnya leachate ke air tanah, pada bagian dasar dari tempat pembuangan sampah harus dibuat lapisan kedap air. Jenis lapisan yang umum dipakai sekarang ini adalah clay liner, karena konstruksi beton disamping mahal juga lamanya dalam pembangunan konstruksi. Dalam penelitian ini digunakan cairan leachate yang diambil dari LPA Supit Urang, Malang dan tanah lempung dari Desa Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Lempung dipadatkan dengan pemadatan Standart Proctor, dimana dari test pemadatan tersebut diambil 2 benda uji pada kadar air kering (dry side), 2 benda uji pada kadar air basah (wet side) dan 2 benda uji pada kadar air optimum (optimum side), sehingga total benda uji 6 buah. Keenam benda uji tersebut ditest dengan falling head permeameter untuk mengetahui nilai k (hydraulic conductivity) dengan mengalirkan leachate. Hasil penelitian menunjukan, clay liner pada sisi dry side memiliki nilai hydraulic conductivity sebesar 3,31.106 cm/det, pada sisi wet side sebesar 3,08.106 cm/det dan pada optimum side sebesar 3,20.106 cm/det. Pada parameter kadar air setelah proses falling head permeameter semua mengalami penurunan. Kadar air yang tepat pada saat pemadatan clay liner adalah pada sisi wet side karena mempunyai nilai rembesan yang lebih kecil dari pada sisi dry side dan optimum. Semakin basah kadar air yang dimiliki clay liner, maka semakin kecil nilai hydraulic conductivity, sehingga semakin baik untuk perencanaan clay liner pada lapisan dasar LPA.

 

Kata kunci : Hydraulic conductivity, clay liner, leachate, dry side, wet side, optimum side.


Keywords


hydraulic conductivity, clay liner, leachate, dry side, wet side, optimum side.

Full Text:

PDF